
Wajo, Geanews.com – Malam belum terlalu larut ketika langkah-langkah itu menyusuri jalanan. Tidak ada sirene. Tidak ada gaya berlebihan. Hanya patroli rutin, tapi penuh makna.
Koramil 1406-03/Maniangpajo memimpin kegiatan patroli cipta kondisi dan siskamling bersama. Bukan sendiri. Mereka berjalan berdampingan dengan Komponen Cadangan (Komcad), Pemuda Panca Marga (PPM), serta tokoh-tokoh masyarakat setempat. Selasa malam, 3 Februari 2026.
Patroli ini dipimpin langsung oleh Serka Jamaluddin. Rutenya jelas: tempat-tempat umum, titik keramaian, dan kawasan yang kerap menjadi denyut aktivitas warga. Tujuannya satu—mencegah sebelum terjadi.
Di Maniangpajo, keamanan tidak diserahkan pada satu institusi saja. Ia dijaga bersama.
“Kami ingin masyarakat merasa aman, bukan diawasi,” kata Serka Jamaluddin. Kalimat sederhana, tapi mencerminkan pendekatan yang dipilih: persuasif, komunikatif, dan membumi.
Personel TNI tidak hanya berpatroli. Mereka berhenti, menyapa, berdialog. Warga diingatkan untuk peduli pada lingkungan sekitar, menjaga siskamling tetap hidup, dan tidak ragu melapor jika ada hal mencurigakan. Keamanan, kata mereka, bukan urusan aparat semata.
Di sinilah letak kekuatan patroli ini. Sinergi.
Komcad, PPM, dan tokoh masyarakat bukan pelengkap. Mereka adalah bagian dari sistem keamanan itu sendiri. Ketika warga dilibatkan, rasa memiliki tumbuh. Dan ketika rasa memiliki tumbuh, keamanan tidak perlu dipaksakan.
Patroli cipta kondisi ini juga menjadi penanda bahwa TNI tetap hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat ada masalah, tapi justru sebelum masalah muncul.
Koramil 1406-03/Maniangpajo berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Bukan sekadar rutinitas, tapi budaya. Budaya menjaga kampung sendiri.
Karena di Wajo, keamanan tidak dijaga dari balik meja. Ia dijaga dari jalanan, dari sapaan, dari kebersamaan antara TNI dan warga. Dan malam itu, Maniangpajo memilih untuk tetap tenang.(gea)


Tidak ada komentar