
Wajo, Geanews.com — Keamanan tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Ia sering tumbuh dari langkah-langkah kecil—yang dilakukan berulang, senyap, dan konsisten.
Sabtu malam (31/1/2026), Kecamatan Pitumpanua tidak memilih menunggu. Koramil 1406-10/Pitumpanua turun langsung ke lapangan. Bukan sendiri.
Bersama mereka ada FKPPI, PPM, dan tokoh-tokoh masyarakat. Seragam loreng berdampingan dengan pakaian sipil. Pesannya sederhana: wilayah ini dijaga bersama.
Patroli cipta kondisi itu dipimpin langsung Danramil 1406-10/Pitumpanua, Kapten Inf Baharuddin Pattah. Rutenya bukan sembarang rute. Titik-titik strategis disambangi: ruang publik, objek vital, hingga lokasi yang biasa menjadi pusat keramaian warga.
Bukan untuk menakut-nakuti. Bukan pula untuk pamer kekuatan.
Tujuannya satu: memastikan malam tetap aman sebelum masalah muncul.
“Kunci stabilitas wilayah adalah kebersamaan,” ujar Kapten Baharuddin di sela kegiatan.
Menurutnya, kehadiran aparat yang menyatu dengan masyarakat bukan hanya soal pengawasan, tetapi juga komunikasi—membaca situasi sebelum ia berubah menjadi persoalan.
Patroli itu sekaligus menjadi ruang dialog. Warga diingatkan untuk menjaga ketertiban, meningkatkan kewaspadaan lingkungan, dan kembali menghidupkan siskamling. Bukan karena keadaan genting, tetapi justru agar keadaan tetap tenang.
Di banyak tempat, keamanan sering dianggap urusan aparat semata. Di Pitumpanua, malam itu, asumsi itu dibantah. Keamanan diperlakukan sebagai kerja kolektif—antara TNI, organisasi kemasyarakatan, dan warga yang tak ingin wilayahnya lengah.
Tidak ada insiden. Tidak ada kegaduhan. Dan justru di situlah letak keberhasilannya.
Koramil 1406-10/Pitumpanua menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Menjaga stabilitas bukan tugas musiman. Ia adalah kerja berkelanjutan—dilakukan bahkan saat semuanya terlihat baik-baik saja.
Sebab keamanan, seperti kepercayaan, hanya terasa penting ketika ia hilang.
Dan Pitumpanua memilih menjaganya sebelum itu terjadi. (Gea)


Tidak ada komentar