Babinsa Koramil 1406-04/Belawa, Sertu Sukardi Pimpin Kerja Bhakti Bersihkan Sungai Bila

Gea
31 Jan 2026 07:27
Headline News 0 30
2 menit membaca

Wajo, Geanews.com — Sungai selalu memberi tanda sebelum ia meluap. Kadang berupa sampah yang menumpuk. Kadang kayu gelondongan yang tersangkut di tiang jembatan. Di Sungai Bila, tanda-tanda itu mulai terbaca sejak awal musim hujan.

Banner Promosi WiFi

Sabtu pagi, 31 Januari 2026, tanda itu dijawab dengan kerja, bukan rapat.

Babinsa Koramil 1406-04/Belawa, Sertu Sukardi, turun langsung ke bantaran Sungai Bila bersama warga Desa Sappa, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo. Mereka melakukan kerja bhakti membersihkan bantaran sungai sekaligus menyingkirkan kayu-kayu besar yang tersangkut di tiang penompang jembatan.

Bukan pekerjaan ringan. Kayu gelondongan yang terbawa arus tak hanya menghambat aliran air, tetapi juga berpotensi menekan struktur jembatan. Jika dibiarkan, sungai bisa kehilangan jalurnya sendiri.

banner 1080x1080

Di bawah terik yang mulai naik, Sertu Sukardi dan warga bahu-membahu. Ada yang menarik kayu, ada yang mengangkat sampah, ada pula yang membersihkan semak di tepian sungai. Semua bergerak tanpa komando panjang. Sungai menjadi ruang kerja bersama.

Kegiatan ini bukan semata urusan kebersihan. Ia adalah upaya pencegahan. Aliran sungai yang tersumbat adalah awal dari banjir, dan banjir selalu datang tanpa banyak kompromi.

Sertu Sukardi menyebut kerja bhakti ini sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan dan keselamatan fasilitas umum. Sungai, menurutnya, bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga urat nadi kehidupan warga.

“Kalau sungai bersih, air mengalir lancar. Jembatan aman. Sawah dan pemukiman juga lebih terlindungi,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan terakhir. Sampah yang dibuang hari ini, kata dia, bisa kembali dalam bentuk banjir esok hari.

Di Desa Sappa, kerja bhakti ini sekaligus menjadi pengingat: menjaga sungai tidak harus menunggu bencana datang lebih dulu. Cukup dengan membaca tanda-tanda kecil, lalu bertindak bersama.

Kadang, mitigasi bencana tidak lahir dari proyek besar.
Ia lahir dari sepatu bot yang basah, tangan yang kotor, dan kesadaran bahwa sungai perlu dirawat—sebelum ia menuntut balasan.(gea)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x